Pada tanggal 17 Agustus tahun 2014, sebagai juga hadiah untuk HUT RI ke-69 Bank Indonesia resmi meluncurkan Uang NKRI dengan nominal 100.000 Rupiah dan juga telah didistribusikan ke seluruh sistem perbankan di seluruh kawasan Indonesia. Nah, perubahan yang terjadi pada Uang yang bernominal 100.000 Rupiah Tahun Emisi 2014 ini antara lain :
1. Penggunaan frasa baru "Negara Kesatuan Republik Indonesia" yang membuat uang baru ini
disebut Uang NKRI. Pada uang tahun emisi 2004 menggunakan frasa "Bank Indonesia"
2. Perubahan penulisan nama dan gelar pahlawan (sesuai Keppres)
3. Perubahan lokasi Tahun Emisi dan Tahun Cetak
4. Perubahan penanda tangan yang sebelumnya oleh anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia
Menjadi Gubernur BI & Menteri Keuangan
5. Penambahan blok warna
6. Perubahan warna pada nomor seri
7. Perubahan ukuran huruf pada frasa "Bank Indonesia"
* Berikut penjelasan gambar (jika gambar kurang jelas) :
Selanjutnya Bank Indonesia menjelaskan ciri ciri uang
kertas pecahan Rp 100.000 Tahun Emisi (TE) 2014 sebagai berikut :
- Bahan : Kertas khusus terbuat dari serat kapas
- Ukuran : 151 mm X 65 mm
- Warna dominan : Merah
- Gambar Utama :
- Bagian Muka : Tokoh Proklamasi Dr. (H.C) Ir. Soekarno dan Dr. (H.C) Drs. Mohammad Hatta
- Bagian Belakang : Gedung MPR/DPR/DPD
Selain itu,
Uang NKRI Baru Tahun Emisi 2014 ini bisa dikenali dengan beberapa cara langsung
sebagai berikut :
- Apabila dilihat dari sudut tertentu akan terlihat perbedaan warna atau gambar pada beberapa elemen yaitu Colour Shifting Ink, Rainbow Effect, Latent Image, dan benang pengaman
- Apabila diraba pada beberapa bagian cetakan akan terasa kasar
- Apabila diterawangkan akan terlihat gambar logo BI yang saling mengisi (rectoverso) serta gambar pahlawan dan ornamen pada area Tanda Air
- Apabila disinari lampu Ultra Violet, beberapa elemen baik yang tampak maupun tidak tampak akan terlihat memendar
- Apabila menggunakan kaca pembesar akan terlihat susunan teks yang mempunyai perbedaan ketebalan dan ukuran huruf.
Berikut ada beberapa lintasan sejarah mengenai Uang :
(Pre-Historic) : Sistem barter adalah sistem ekonomi paling kuno, jadi orang-orang saling menukar barang yang mereka butuhkan.
(China pada tahun 1000 SM) : Para penduduk negeri tiongkok menggunakan Kerang untuk ditukarkan dengan barang yang mereka butuhkan. Penggunaan Kerang ini dipercaya sebagai penggunaan koin pertama dalam sejarah keuangan Dunia.
(China pada tahun 1000 SM) : Para penduduk negeri tiongkok menggunakan Kerang untuk ditukarkan dengan barang yang mereka butuhkan. Penggunaan Kerang ini dipercaya sebagai penggunaan koin pertama dalam sejarah keuangan Dunia.
(Asia Minor/Turki pada tahun 700 SM) : Kerajaan Lydia yang ada di kawasan turki menggunakan Koin dalam bentuk sesungguhnya untuk pertama kali. Komposisi penyusun koin ini adalah sekitar 75 % Emas dan 25 % Perak.
Beberapa Zaman kerajaan berikutnya, sistem penggunaan koin ini dianut juga Oleh kerajaan-kerajaan lainnya seperti Yunani, Macedonia, Persia, hingga Romawi, dan tetap berlanjut.
(Dinasti Tang pada abad ke 7 Masehi) :
Sebelumnya, selama berabad-abad koin tembaga telah menjadi
mata uang utama China. Tetapi, karena dirasa tidak praktis dan tidak aman pada
saat harus membawa uang dalam jumlah yang banyak, maka para pedagang sepakat
menyimpan koin mereka dan menerbitkan kertas sertifikat yang memiliki nilai
seperti nilai koin. China pun mulai menggunakan uang kertas. Uang kertas yang
sangat ringan. Saking ringannya, uang tersebut dijuluki “uang terbang.” Kendati
demikian, penggunaan uang kertas tetap terbatas selama 200 tahun ke depan
hingga kelangkaan tembaga memaksa para pedagang dan pejabat pemerintah Dinasti
Song untuk menerbitkan dan menerima uang kertas yang didukung oleh cadangan
emas. Dan penggunaan uang kertas ini menyebar ke seluruh dunia dan terus mengalami perkembangan seterusnya.
Sejarah Bank Indonesia
Bank Indonesia
adalah bank hasil nasionalisasi bank Belanda, de Javasche Bank, yang
pada masa kolonial bertugas sebagai bank sirkulasi Hindia Belanda. De
Javasche Bank menjadi perintis perkembangan sistem perbankan pada masa
kolonial Belanda.
Berdasarkan keputusan dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949, de
Javasche Bank ditunjuk sebagai bank sentral. Pada tahun 1951 dibentuk
Panitia Nasionalisasi de Javasche Bank dan menunjuk Sjafruddin Prawiranegara
sebagai presidennya menggantikan Dr. A. Houwink yang mengundurkan diri.
Dalam peringatan 125 tahun de Javasche Bank, 24 Januari 1953, Wakil
Presiden Moh. Hatta mengatakan bahwa bank ini akan ikut menyelenggarakan
kebijaksanaan moneter pemerintah dan akan aktif mempengaruhi
perkembangan perekonomian dalam masyarakat. Kemudian lahirlah Bank
Indonesia sebagai bank sentral pada tanggal 1 Juli 1953.
De Javasche Bank didirikan tahun 1828 dalam bentuk Perseroan Terbatas (N.V. atau Naamlooze Vennootschap) dan pada tahun itu juga mendapatkan hak octrooi
sebagai bank sirkulasi. Bank ini didirikan berdasarkan perintah Raja
Willem I, konsepsinya ditangani oleh Direktur Daerah Jajahan, J.C. Baud,
dan Direktur Urusan Hindia Belanda dan Nederlandsche Handel-Mij,
Schimmelpenninck. Pembentukannya dilakukan oleh Komisaris Jendral
Hindia Belanda, Leonard Pierre Joseph Burgraaf du Bus de Gisignies.
Sebagai kantor pertama digunakan gedung Firma MacQuoid Davidson & Co di Jakarta-Kota.
Sampai sekarang gedung ini masih dipergunakan sebagai kantor Bank
Indonesia. Presiden pertamanya adalah C.H.R. de Haan dan sekretaris C.J.
Smulders.
Setahun setelah berdirinya, de Javasche Bank membuka cabang di
Semarang dan di Surabaya, namun perlu 35 tahun sebelum membuka cabang
berikutnya di Padang dan kemudian di Makassar (1864). Dalam 125 tahun
perjalanannya, de Javasche Bank telah membuka 23 kantor cabang yang
tersebar di 4 pulau, Jawa, Sumatra, Kalimanta, dan Sulawesi, serta
sebuah cabang di Amsterdam, Belanda.
Gedung de Javasche Bank yang terletak di ujung utara Jl. Braga sekarang
dibangun dengan arsitektur bergaya neo-classcics atau ecclecticism
berdasarkan rancangan biro arsitek Hulswit, Fermont & (Edward)
Cuypers. Bentuk bangunan yang megah dengan pintu utama yang tinggi
memang sedap dipandang oleh siapapun yang lewat. Bila berhenti sejenak
mengamati detail bangunan, langsung terlihat kekayaan ornamen etnik
Nusantara hadir di banyak sudut bangunan yang masih tampak sangat kokoh
ini. Gedung Bank Indonesia termasuk salah satu dari 100 Bangunan Cagar
Budaya di Bandung yang tercantum dalam Peraturan Daerah No.19 Tahun 2009.
| Bangunan BI pada masa penjajahan Belanda (1938) |
| Gedung de Javasche Bank saat ini |
- http://mooibandoeng.wordpress.com/2013/06/04/bank-indonesia-dh-de-
javasche-bank/
- http://www.aktualpost.com/2014/08/18/25754/uang-nkri-baru-2014-pecahan-rp-100-000-
sudah-mulai-beredar-hari-ini/
- http://nwahid38.blogspot.com/2013/07/sejarah-mata-uang-di-indonesia.html


Tidak ada komentar:
Posting Komentar